Implementasi TAI dan CIRC


Kurikulum bidang studi yang padat dan kompleks mestinya secara tidak langsung menggiring para guru untuk kreatif dan antisiatif terhadap keefektifan akan pembelajarannya di sekolah. Hal ini dapat dilakukan mulai dari pengemasan rancangan pembelajaran hingga implementasinya di kelas. Pengemasan pembelajaran dewasa ini sering berdasarkan asumsi-asumsi yang tidak sejalan dengan hakikat belajar, hakikat orang yang belajar, dan hakikat orang yang mengajar. Dunia belajar didekati dengan paradigma yang tidak mampu menggambarkan hakikat belajar dan pembelajaran secara komprehensif, lebih-lebih dalam menghadapi abar ke-21 yang sering disebut sebagai abad pengetahuan (the knowledge age). Dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang bekerja untuk menyelesaikan suatu masalah, menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama. Selain itu pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa mamahami konsep-konsep yang sulit serta menumbuhkan kemampuan kerjasama, berpikir kritis dan mengembangkan sikap sosial siswa. Pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya, karena siswa yang rendah hasil belajarnya dapat meningkatkan motivasi, hasil belajar dan penyimpanan materi pelajaran yang lebih lama.  Adabanyak model pembelajaran cooperative learning salah satunya tipe TAI dan CIRC.

Team Assisted Individualization atau yang lebih dikenal dengan TAI merupakan model pembelajaran yang menggunakan kombinasi pembelajaran kooperatif dan individual. Hal mendasar yang membedakan model pembelajaran TAI dengan lainnya adalah konsistensi pada mata pelajaran apa yang sesuai dengan model pembelajaran yang diterapkan, dimana model pembelajaran ini dibuat secara khusus untuk mata pelajaran matematika pada siswa kelas 3-6.

Berbeda dengan model lainnya, TAI terikat pada serangkaian materi pelajaran yang khas dan memiliki petunjuk pelaksanaan sendiri. Menurut Slavin (1995). Lain halnya dengan tipe pembelajaran CIRC, siswa mengikuti urutan instruksi guru, latihan tim, asesmen awal tim, dan kuis. Dalam hal ini siswa diberikan penghargaan tim, kesempatan yang sama untuk berhasil dalam pembelajaran dan tanggung jawab individual.

 

Model Pembelajaran Team Accelerated Instruction (TAI)

Team Accelerated Instruction atau Team Assisted Individualization (Slavin, Leavy, Maden, 1986) memiliki persamaan dengan STAD dan TGT dalam penggunaan tim-tim pembelajaran empat-anggota berkemampuan heterogen dan pemberian sertifikat untuk tim yang berkinerja-tinggi. Bedanya bila STAD dan TGT menggunakan sebuah tatanan pengajaran tunggal untuk kelas, TAI menggabungkan pembelajaran kooperatif dengan pengajaran individual. Di samping itu, bila STAD dan TGT diterapkan pada hampir semua kelas 3-6 (atau siswa kelas-kelas lebih tinggi yang belum siap untuk mengikuti mata pelajaran aljabar penuh).

Pada TAI, siswa masuk dalam sebuah urutan kemampuan individual sesuai dengan hasil tes penempatan (placement test) dan kemudian maju sesuai dengan kecepatannya sendiri. Pada umumnya, anggota tim bekerja pada unit-unit bahan ajar yang berbeda. Siswa saling memeriksa pekerjaan teman sesama tim dengan dipandu oleh lembar jawaban dan saling membantu dalam memecahkan setiap masalah. Tes unit akhir dikerjakan tanpa bantuan teman sesema tim dan diskor segera. Setiap minggu, guru menjumlah banyak unit yang diselesaikan oleh seluruh anggota tim dan memberikan sertifikat atau bentuk penghargaan tim lain kepada tim yang melampaui suatu skor kriteria yang didasarkan pada jumlah tes akhir yang ditanyakan tuntas itu, dengan poin ekstra untuk pekerjaan sempurna dan pekerjaan rumah yang diselesaikan dengan baik.

Karena siswa memiliki tanggung jawab untuk saling memeriksa pekerjaan mereka dan mengelola aliran bahan ajar, guru dapat menggunakan sebagian besar waktu pelajaran untuk mempresentasikan pelajaran kepada kelompok-kelompok kecil siswa yang berasal dari berbagai tim yang sedang bekerja pada pokok bahasan yang sama pada urutan pelajaran matematika. Misal, guru dapat memanggil siswa-siswa yang sedang bekerja pada pokok bahasan desimal, dan kemudian meminta siswa-siswa tersebut kembali ke tim mereka untuk mengerjakan masalah-masalah desimal. Kemudian guru dapat memanggil siswa yang sedang bekerja pada pokok bahasan pecahan, dan seterusnya.

TAI memiliki dinamika motivasi sebanyak yang dimiliki STAD dan TGT. Siswa terdorong dan saling membantu satu sama lain agar berhasil kerena mereka ingin tim mereka berhasil. Tanggung jawab individual terjamin karena satu-satunya skor yang diperhitungkan adalah skor tes final, dan siswa mengerjakan tes tersebut tanpa bantuan teman sesama tim. Siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil karena semua siswa telah ditempatkan sesuai dengan tingkat pengetahuan awal mereka, sama mudahnya (atau sama sukarnya) bagi seorang siswa dengan hasil belajar rendah untuk menyelesaikan tiga unit pengurangan dalam satu minggu seperti yang dialami oleh seorang siswa sesama tim dengan hasil belajar tinggi untuk menyelesaikan tiga unit pembagian panjang.

Bagaimanapun juga, individualisasi merupakan bagian dari TAI tersebut membuat TAI jelas berbeda dari STAD dan TGT. Dalam pelajaran matematika, hampir seluruh konsep dibangun di atas konsep sebelumnya tersebut belum dikuasai, konsep-konsep berikutnya akan sulit atau tidak mungkin dipelajari seorang siswa yang tidak dapat mengurangi atau mengalikan akan gagal memahami pembagian panjang, seorang siswa yang tidak memahami konsep-konsep pecahan akan gagal untuk memahami apakah suatu desimal itu, dan seterusnya. Dalam TAI, siswa bekerja pada kecepatan mereka sendiri, sehingga apabila mereka lemah dalam keterampilan-kerampilan prasyarat mereka, mereka terlebih dahulu dapat membangun sebuah landasan kuat berupa keterampilan prasyarat tersebut sebelum mereka belajar pokok bahasan lebih tinggi. Sebaliknya, apabila siswa dapat belajar lebih cepat, mereka tidak perlu menunggu sisa teman sekelas mereka.

Agar siswa dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya maka mereka perlu diajari keterampilan-keterampilan kooperatif sebagai berikut:

  1. ŸBerada dalam tugas : Berada dalam tugas maksudnya adalah tetap berada dalam kerja kelompok, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya sampai selesai dan bekerjasama dalam kelompok sesuai dengan kesepakatan kelompok, ada kedisiplinan individu dalam kelompok.
  2. Mengambil giliran dan berbagi tugas :  yaitu bersedia menerima tugas dan membantu menyelesaikan tugas.
  3. Mendorong partisipasi yaitu memotivasi teman sekelompok untuk memberikan kontribusi tugas kelompok.
  4. Mendengarkan dengan aktif : mendengarkan dan menyerap informasi yang disampaikan teman dan menghargai pendapat teman. Hal ini penting untuk memberikan perhatian pada yang sedang berbicara sehingga anggota kelompok yang menjadi pembicara akan merasa senang dan menumbuh kembangkan motivasi belajar bagi dirinya sendiri dan yang lainnya.
  5. Menanyakan informasi atau penjelasan lebih lanjut dari teman sekelompok kalau perlu didiskusikan, apabila tetap tidak ada pemecahan tiap anggota wajib mencari pustaka yang mendukung, jika tetap tidak terselesaikan baru bertanya kepada guru.

Komponen-Komponen Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI

Model pembelajaran kooperatif tipe TAI memiliki 8 komponen, yaitu:

  1.  Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 sampai 6 siswa.
  2. Placement test, yakni pemberian pre-tes kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa dalam bidang tertentu.
  3. Student Creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.
  4. Team Study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan secara individual kepada siswa yang membutuhkannya.
  5. Team Scores and Team Recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas.
  6. Teaching Group, yakni pemberian materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok.
  7. Facts Test, yaitu pelaksanaan tes-tes kecil berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.
  8. Whole Class Units, yaitu pemberian materi oleh guru kembali di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah

 

Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC).

CIRC singkatan dari Cooperative Integrated Reading and Compotition, termasuk salah satu model pembelajaran cooperative learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis (Steven dan Slavin dalam Nur, 2000:8) yaitu sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar. Namun, CIRC telah berkembang bukan hanya dipakai pada pelajaran bahasa tetapi juga pelajaran eksata seperti pelajaran matematika. Dalam model pembelajaran CIRC, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Jadi, dalam kelompok ini sebaiknya ada siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa merasa cocok satu sama lain. Dengan pembelajaran kooperatif, diharapkan para siswa dapat meningkatkan cara berfikir kritis, kreatif dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi.

Komponen-Komponen Dalam Pembelajaran CIRC

Model pembelajaran CIRC menurut Slavin dalam Suyitno (2005: 3-4) memiliki delapan komponen. Kedelapan komponen tersebut antara lain:

  1. Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 atau 5 siswa.
  2. Placement test, misalnya diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai rapor agar guru mengetahui kelebihan dan kelemahan siswa pada bidang tertentu.
  3. Student creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.
  4. Team study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh

kelompok dan guru memberika bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya.

  1. Team scorer and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas.
  2. Teaching group, yakni memberikan materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok.
  3. Facts test, yaitu pelaksanaan test atau ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.
  4. Whole-class units, yaitu pemberian rangkuman materi oleh guru di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.

 

Kegiatan Pokok Pembelajaran CIRC

Kegiatan pokok dalam CIRC untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik, yaitu:

  1. Salah satu anggota atau beberapa kelompok membaca soal.
  2. Membuat prediksi atau menafsirkan isi soal pemecahan masalah, termasuk menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan dan memisalkan yang ditanyakan dengan suatu variable.
  3. Saling membuat ikhtisar/rencana penyelesaian soal pemecahan masalah.
  4. Menuliskan penyelesaian soal pemecahan masalah secara urut.
  5. Saling merevisi dan mengedit pekerjaan/penyelesaian (Suyitno, 2005:4).

 

Penerapan Model Pembelajaran CIRC

Penerapan model pembelajaran CIRC untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dapat ditempuh dengan:

  1. Guru menerangkan suatu pokok bahasan kepada siswa, pada penelitian ini digunakan LKS yang berisi materi yang akan diajarkan pada setiap pertemuan.
  2. Guru memberikan latihan soal.
  3. Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan keterampilan siswanya dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah melalui penerapan model CIRC.
  4. Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa yang heterogen. Guru mempersiapkan soal pemecahan masalah dalam bentuk kartu masalah dan membagikannya kepada setiap kelompok.
  5. Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan bersama yang spesifik.
  6. Setiap kelompok bekerja berdasarkan kegiatan pokok CIRC, Guru mengawasi kerja kelompok.
  7. Ketua kelompok melaporkan keberhasilan atau hambatan kelompoknya.
  8. Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota telah memahami, dan dapat mengerjakan soal pemecahan masalah yang diberikan.
  9. Guru meminta kepada perwakilan kelompok untuk menyajikan temuannya.
  10. Guru bertindak sebagainarasumber atau fasilitator.
  11. Guru memberikan tugas/PR secara individual.
  12. Guru membubarkan kelompok dan siswa kembali ke tempat duduknya
  13. Guru mengulang secara klasikal tentang strategi penyelesaian soal  pemecahan masalah.
  14.  Guru memberikan kuis.

 

Kekuatan Model Pembelajaran CIRC

Secara khusus, Slavin dalam Suyitno (2005:6) menyebutkan kelebihan model pembelajaran CIRC sebagai berikut:

  1. Ÿ  CIRC amat tepat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah.
  2. Dominasi guru dalam pembelajaran berkurang.
  3. Siswa termotivasi pada hasil secara teliti, karena bekerja dalam kelompok.
  4. Parasiswa dapat memahami makna soal dan saling mengecek pekerjaannya.
  5. Membantu siswa yang lemah.
  6. Meningkatkan hasil belajar khususnya dalam menyelesaikan soal yang berbentuk pemecahan masalah.

About naratekpend

Apa aja boleh

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: