Agen Pembaharu


Agen pembaharu (change agent) ialah orang yang bertugas mempengaruhi klien agar mau menerima inovasi sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh pengusaha pembaharuan (change agency).  Misalnya: guru, penyuluh kesehatan, penyuluh pertanian dan sebagainya. Semua  agen pembaharu  bertugas membuat jalinan komunikasi antara pengusaha pembaharu (sumber inovasi) dengan sistem klien (sasaran inovasi). Dengan kata lain tugas utama agen pembaharu adalah melancarkan jalannya arus inovasi dari pengusaha pembaharuan ke klien. Proses komunikasi tersebut akan efektif jika inovasi yang disampaikan kepada klien dipilih sesuai dengan kebutuhannya atau sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi klien tersebut. Seorang agen pembaharu menjalin hubungan dengan dua sistem sosial yang mungkin keduanya heterophily yaitu berhubungan dengan pengusaha pembaharuan dan juga dengan sistem klien. Terkadang adanya kesenjangan heterophily pada kedua sisi agen pembaharu, yang dapat menimbulkan masalah dalam komunikasi. Keberhasilan agen pembaharu dalam melancarkan proses komunikasi antara pengusaha pembaharu dengan klien, merupakan kunci keberhasilan proses difusi inovasi.
A. FUNGSI DAN TUGAS AGEN PEMBAHARU

Fungsi utama agen pembaharu adalah sebagai penghubung antara pengusaha pembaharuan (change agency), dengan klien (client), dengan tujuan agar inovasi dapat diterima oleh klien sesuai dengan keinginan pengusaha pembaharuan.

Menurut Zaltman, ada tiga hal yang perlu diperhatikan oleh agen pembaharu dalam usaha memantapkan hubungannya dengan klien, yaitu:

  1. Seorang agen pembaharu harus mampu membantu klien dalam usaha meningkatkan kehidupannya.
  2. Harus diusahakan terjadinya pertukaran informasi tentang hal-hal yang diharapkan akan dicapai dalam proses perubahan antara agen pembaharu dengan klien.
  3.  Perlu diusahakan adanya sangsi yang tepat terhadap target perubahan yang akan dicapai.

Rogers mengemukakan ada 7 langkah kegiatan agen pembaharu dalam pelaksanaan tugasnya memperkanalkan inovasi tunggal kepada sistem klien, yaitu:

  1.  Membangkitkan kebutuhan untuk berubah.
  2. Memantapkan hubungan pertukaran informasi.
  3. Mendiagnosa masalah yang dihadapai.
  4. Membangkitkan kemauan klien untuk berubah.
  5. Mewujudkan kemauan dalam perbuatan.
  6. Menjaga kestabilan penerimaan inovasi dan mencegah tidak berkelanjutannya inovasi.
  7. Mengakhiri hubungan ketergantungan.

 B. FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN AGEN PEMBAHARU

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan agen pembaharu berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut:

  1. Usaha Agen Pembaharu : keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif dengan besarnya usaha mengadakan kontak dengan klien.
  2. Orientasi pada klien : Keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif dengan orientasi pada klien daripada orientasi pada pengusaha pembaharuan.  
  3. Sesuai dengan kebutuhan klien : Keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif dengan kesesuaian program difusi dengan kebutuhan klien.
  4. Emphati : Keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif dengan emphati terhadap klien.
  5. Homophily : Kontak yang dilakukan agen pembaharu berhubungan positif dengan status sosial antar klien, tingginya tingkat pendidikan antar klien dan sifat kosmopolitan antar klien. 
  6. Kontak agen pembaharu dengan klien yang berstatus lebih rendah : Keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif dengan klien yang homophily.
  7. Pembantu para-profesional : Pembantu paraprofesional ialah orang yang bertugas membantu agen pembaharu agar terjadi kontak dengan klien yang berstatus lebih rendah.
  8. Kepercayaan klien terhadap agen pembaharu (credibility) : Keberhasilan agen pembaharu berhubungan positif dengan kepercayaan (credibility) dari sudut pandang klien.
  9. Profesional Semu : Agen pembaharu tetap masih sangat dibutuhkan untuk menatar atau melatih pembantu agen pembaharu. Satu masalah yang sering dijumpai pembantu agen pembaharu ialah timbulnya profesional semu yang terjadi karena pembantu agen pembaharu bergaya seperti agen pembaharu yang profesional.
  10. Pemuka Pendapat : Keberhasilan agen pembaharu berhubungan postif dengan besarnya usaha untuk bekerjasama dengan pemuka pendapat.
  11. Kemampuan klien untuk menilai inovasi : Keberhasilan agen pembaharu berhubungan postif dengan meningkatnya kemampuan klien untuk menilai inovasi. 

 

 C.  SISTEM DIFUSI SENTRALISASI DAN DISENTRALISASI

Sistem difusi yang telah berpuluh-puluh tahun digunakan ialah sistem difusi sentralisasi, yang sering disebut juga sistem difusi model klasik. Dapat dikatakan proses ini klien tidak berperan aktif namun sangat pasif. Sejak tahun 1970 Rogers menyadari bahwa sistem difusi sentralisasi tidak dapat terlaksana persis seperti apa yang telah direncanakan oleh penemunya, tetapi kenyataannya banyak terjadi modifikasi dalam penerapannya dilapangan. Demikian pula Schon pada tahun 1971, Ia menyatakan bahwa sistem sentralisasi tidak dapat menampung munculnya ide-ide baru dari berbagai bidang yang sangat kompleks, dan terjadi difusi melalui jalur horizontal. Maka kemudian timbul sistem difusi desentralisasi yang ditandai dengan munculnya ide baru tidak dari seorang atau kelompok ahli seorang atau sekelompok ahli, tetapi dapat dari siapa saja dan juga proses penyebarannya diatur oleh calon penerima inovasi sendiri. Jadi sasaran inovasi juga berperan sebagai pembaharu.

Perbandingan antara sistem difusi sentralisasi dan sistem difusi desentralisasi, diuraikan secara singkat sebagai berikut:

Sistem Difusi Sentralisasi.

  1. Wewenang pengambil keputusan dan kebijakan, berada pada administrator pemerintah pusat dan para ahli bidang ilmu (technical subject-matter expert).
  2. Arah difusi dari pusat kebawah (top-down), artinya dari para ahli (penemu inovasi) disebarkan ke para sasaran penerima inovasi di daerah.
  3. Sumber inovasi, dari organisasi formal ”Penelitian dan Pengembangan” yang ditangani oleh para ahli.
  4. Penetapan difusi inovasi dilakukan oleh tenaga administrator di pusat dan para ahli bidang ilmu.
  5. Pendekatan yg digunakan berorientasi pada inovasi, penentuan kebutuhan klien berdasarkan adanya inovasi, dengan teknik pelaksanaan didorong dari atas.
  6. Tidak banyak terjadi re-invesi serta modifikasi untuk disesuaikan dengan kondisi setempat selama dalam proses difusi inovasi.

 Sistem Difusi Desentralisasi

  1. Keputusan dan kebijakan diambil secara bersama oleh anggota-anggota sistem difusi. Klien dikontrol oleh pimpinan masyarakat setempat.
  2. Arah difusi secara horizontal dari kelompok ke kelompok (peer diffusion).
  3. Sumber inovasi datang dari percobaan bukan mesti orang ahli dari wilayah setempat, yang juga sering menjadi pemakainya.
  4. Penetapan difusi inovasi oleh kelompok masyarakat setempat (lokal) berdasarkan penilaian inovasi secara informal.
  5. Menggunakan pendekatan yang berorientasi kepada pemecahan masalah, yang timbul dari apa yang diamati dan dirasakan oleh masyarakat setempat, teknik pelaksanaan ditarik dari bawah.
  6. Banyak terjadi re-invensi dan penyesuaian dengan kondisi setempat selama dalam proses difusi antar anggota sistem sosial.

Dalam pelakasanaan difusi inovasi tidak dapat dibedakan secara tegas mana yang sentralisasi mana yang desentralisasi, biasanya mana yang lebih dominan dari ciri-ciri tersebut, sehingga difusi cenderung sentralisasi atau desentralisasi.

Kelemahan sistem difusi desentralisasi jika dibandingkan dengan sistem difusi sentralisasi antara lain:

  1. Jika inovasi yang dapat disebarluaskan memerlukan tenaga ahli (sarjana bidang ilmu tertentu), maka sistem difusi desentralisasi kurang tepat digunakan karena akan terjadi kesukaran mencari tenaga ahli.
  2. Sistem difusi desentralisasi yang dilaksanakan secara ekstrim memiliki kelemahan kurang adanya koordinasi, untuk menentukan mana masalah yang dihadapi, inovasi mana yang tepat digunakan, siapa yang mengontrol pelaksanaan difusi, dan sebagainya
  3. Pada suatu saat kadang-kadang memang diperlukan menyebarkan inovasi yang klien tidak merasa memerlukannya. Maka jika menggunakan sistem desentralisasi tidak akan terjadi difusi.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa

  • Sistem difusi desentralisasi lebih tepat digunakan untuk menyebarkan inovasi yang tidak melibatkan tenaga ahli tingkat tinggi dan sasaran perubahannya heterogen. Jika sasaran perubahannya homogen secara relatif lebih tepat dengan sistem disentralisasi.
  • Dapat juga dilakukan kombinasi antara beberapa unsur sistem desentralisasi dan sistem sentralisasi. Misalnya untuk koordinasi kegiatan menggunakan sistem sentralisasi, tetapi untuk menentukan mana inovasi yang akan didifusikan berdasarkan kebutuhan dengan sistem desentralisasi.

About naratekpend

Apa aja boleh

Silahkan Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: